Jujul, Contoh Petani Hidroponik Muda Dari Banten

Saat masa pandemi Covid 19 ini, menjadikan masyarakat sulit untuk berbelanja langsung ke pasar. Anjuran untuk memminimalisir kontak langusng dengan orang dan bepergian keluar rumah membuat para masyarakat kesusahan jika barang kebutuhan di rumah habis.

Selain itu, sayur mayur yang biasa ditemukan di pasar juga terkadang menipis dan sulit ditemukan. Padahal sayur merupakan bahan makanan penting untuk tubuh kita dan sangat membantu menjaga keseinbangan metabolisme kita.

Untuk mengatasi hal tersebut, banyak masayarakat di Indonesia mulai melakukan bercocok tanam di halaman rumahnya sendiri. Awalnya hanya uintuk memenuhi kebutuha sehari-hari, namun semakin lama menjadi peluang bisnis yang bagus untuk di jalankan. Hasil panen yang dihasilkan sangatlah menggiurkan dan mempunyai nilai harga yang lumayan tinggi.

Namun hal tersebut sulit dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di kota besar. Hal ini disebabkan oleh sempitnya lahan terbuka yang ada di perkotaan besar. Bercocok tanam dengan Teknik hidroponbik menjadi jawaban atas maslah tersebut. Karena dengan teknik ini, kita tidak perlu membutuhkan laha yang luas untuk bercocok tanam.

Hal  tersebut menggerakan hati Jujul, seorang pemuda asal Banten untuk menjadi petani saat pandemi Covid 19 ini. Perasaan khawatir yang dirasakan Jujul saat kesusahan mencari sayur mayur di pasar menjadi alasan awal dia menjadi petani.

Ia Bertani di lahan yang mempunyai luas 35.000 meter persegi untuk melakukan cocok tanam dengan berbagai teknik disana. Salah satunya adalah dengan teknik Hidroponik yang tidak membutuhkan lahan yang luas. Di sisa lahan yang ada dia membangun 3 green house untuk menanam sayuran yang susah di cari di pasar maupun di super market.

Tanaman yang dilahan tersebut adalah Bayam, Pakcoy, Selada, Caisim dan kangkong. Untuk sayuran yang sulit ditemukan di supermarket adalah Romaine, thyme, dan Basil juga di tanam di lahannya.

Tidak hanya sayuran saja yang ditanam  di lahannya, buah-buahan juga ditanam disana seperti papaya, lengkeng, lemon, jeruk nipis dan umbi-umbian.

Menurutnya, bisnis dalam bentuk bercocok tana mini tidak terlalu berpengaruh saat masa pandemic ini, sehingga merupakan bisnis yang bagus dijalankan pada saat masa pandemi ini. Keuntungan yang didapat juga bisa dibilang sangat memuaskan.

Jujul merupakan salah satu contoh pemuda yang tidak menyerah dengan keadaan pandemi yang melanda Indonesia. sulitnya mencari pekerjaan dan kepeduliannya dengan lingkungan membuatnya memberanikan diri untuk banting stir menjadi petani. Alhasil pada saat ini kebun yang digarapnya mengahsilkan panen yang luar biasa. Keanekaragaman tanaman ynag dipanen juga sangat memuaskan.

Jadi, buat anda pemuda tidak usah malu dengan menjadi seorang petani atau bekerja di lading yang kalian miliki. Karena hal tersbeut bisa menjadi lading rejeki yang ada punya nantinya. Pemuda yang  berasar dari Banten ini juga berharap bahwa pemuda lainnya juga bisa mengikuti langkahnya. Selain baik untuk memperbaiki ekonimi, bercocok tanam juga berdampak positif untuk lingkungan sekitar. Kualitas udara jadi membaik karena tanaman di kebun tersebut bisa menurunkan polusi udara yang ada disana dan tempatnya pun menjadi sejuk.